Calo CPNSD Lampung minta uang 150 juta

Desember 6, 2010

Mengaku sepupu Wali Kota Herman H.N., Rudi Hermawan menebar janji. Dengan uang minimal Rp150 juta, ia menjamin pelamar yang mengikuti seleksi CPNSD kemarin (5/12) pasti diterima menjadi PNS di Bandarlampung. Isu suap untuk menjadi PNS di lingkungan Pemprov Lampung maupun pemkot/pemkab se-Lampung setiap tahun selalu terdengar. Namun, sangat susah untuk membuktikannya. Bukan apa-apa. Calo-calo itu kelewat pintar. Mereka selalu dapat menghapus jejak dan menghindarkan sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti. Semisal kuitansi atau bukti transfer rekening.

Nah, dalam investigasi kali ini, Radar Lampung berhasil menemui salah satu calo. Laki-laki yang mengaku bernama Rudi ini menyatakan dekat dengan Wali Kota Bandarlampung Herman H.N.

Pertemuan dengan Rudi berawal dari sumber Radar Lampung yang menjadi salah satu peserta CPNSD di Pemkot Bandarlampung. Pada Rabu (2/12) pukul 21.30 WIB, ia dihubungi seorang wanita, Sri.

Sumber Radar sangat kaget karena dirinya tidak mengenal Sri. Ia heran darimana wanita tadi bisa mengetahui nomor telepon selulernya. Termasuk data dirinya adalah salah satu pelamar di lingkungan Pemkot Bandarlampung.

Dalam percakapan di telepon, Sri menyatakan bisa memperlancar niat sumber menjadi PNS. ’’Kalau Adik mau, besok (3/12, Red) kita ketemuan. Saya langsung pertemukan dengan orang BKD (Badan Kepegawaian Daerah),” ujarnya.

Karena penasaran, sumber Radar menerima tawaran tersebut. Tempatnya ditentukan di salah satu ruko dua tingkat yang menjual pakaian-pakaian di kawasan Telukbetung Utara, Bandarlampung.

Sebelum pertemuan, sumber menghubungi Radar sekitar pukul 10.00 WIB. Ia mengajak wartawan koran ini untuk menemaninya. Akhirnya, ia dan Radar sampai di lokasi pukul 11.30.

Sri cukup modis. Sampai-sampai rambutnya pun dipirang. Saat itu juga ia langsung menghubungi Rudi, calo PNS dimaksud yang datang ke tempat itu 15 menit kemudian.

Seperti menyesuaikan dengan dandanan Sri, Rudi tampil perlente. Ia memakai baju safari warna hitam dengan celana dasar hitam. Tas yang juga warna hitam diselempangkan di bahunya.

Usai berbasa-basi, Rudi lantas mengambil berkas yang menurutnya adalah data pelamar-pelamar CPNSD di Pemkot Bandarlampung. Berkas itu berada di salah satu meja pada ruangan berukuran 4 x 5 meter tersebut.

Pada berkas tercantum nama, nomor peserta, alamat, dan nomor telepon pelamar yang beberapa di antaranya ditandai dengan stabilo warna hijau. Berkas sumber Radar juga ada di dalamnya.

Sumber dan Radar sempat meminta diizinkan melihat berkas tersebut. Namun, Rudi menolak. ’’Jangan, ini rahasia. Panitia pun belum tentu dapat data ini. Yang megang saya sama Sekda (sekretaris kota, Red),” kilahnya.

Rudi langsung ke inti permasalahan. Dalam obrolan, ia menanyakan pekerjaan orang tua sumber dan menyebutkan nominal uang pelicin untuk menjadi PNS di pemkot/pemkab se-Lampung.

’’Kalau di daerah atau kabupaten lain, minimal Rp150 juta. Tetapi ini di kota, berarti lebih, sampai Rp170 juta. Kalau sama saya bisa nego. Bisa turun asal jangan terlalu jauh,” ungkap pria berkulit putih ini.

Rudi menjelaskan, uang nantinya dibagi-bagi. Tetapi, dia tidak menyebutkan kepada siapa saja aliran dana tersebut diberikan. Dia hanya memastikan, 99 persen pelamar pasti lolos seleksi. ’’Satu persennya bisa gagal karena hal lain, seperti kecelakaan atau meninggal,” ujarnya.

Rudi mengaku mendapatkan jatah sebanyak 18 orang pada 14 formasi CPNSD di Pemkot Bandarlampung pada tahun ini. Yaitu S-1 teknik ilmu komputer (TIK) sebanyak tiga orang; S-1 seni dan budaya (1); dan S-1 pendidikan sosiologi (1).

Lalu S-1 tata boga (1); pendidikan agama (1); dokter umum (3); D-3 gizi (1); D-3 farmasi (1); teknik lingkungan (1); teknik lanskap (1); teknik arsitektur (1); teknik kimia (1); D-3 perawat (1); dan D-3 kesehatan lingkungan (1).

Sebagai gambaran, formasi PNS yang dibutuhkan Pemkot Bandarlampung tahun ini untuk S-1 guru TIK sebanyak 16 orang. Dengan rincian guru SMP tujuh orang, guru SMA (7), dan guru SMK (2).

Berikutnya, S-1 seni dan budaya enam orang. Rinciannya guru SMP (3), guru SMA (2), dan guru SMK (1). Selanjutnya, S-1 pendidikan sosiologi (2) dan S-1 tata boga (1). Kemudian, pendidikan agama Islam enam orang dengan rincian guru SMP (1) dan SMA (5).

Untuk dokter umum (17); D-3 gizi (3); D-3 farmasi (2); teknik lingkungan (1); teknik lanskap (1); teknik arsitektur (1); teknik kimia (1); D-3 perawat (15); dan D-3 kesehatan lingkungan (1).

Rudi menjelaskan, teknis pemberian uang dengan memberikan DP (uang muka, Red) terlebih dahulu sebagai tanda jadi antara Rp30 juta-Rp50 juta. Pelunasan dilakukan 3-4 hari setelah tes.

Rudi lalu meminta sumber menyerahkan uang DP sore itu juga atau besoknya (Jumat, 3/12, Red). Jika tidak menyerahkan DP pada hari yang ia sebutkan, perjanjian otomatis batal.

’’Harus cepat diserahkan DP-nya. Karena banyak orang yang mau masuk menjadi PNS. Tinggal saya telepon saja mereka itu, pasti banyak yang rebutan,” terangnya.

Dia melanjutkan, jika uang DP sudah diserahkan kepadanya, maka dirinya akan memberikan kuitansi bermaterai Rp6 ribu. Isinya, pernyataan sudah ada proses penyerahan uang untuk menjadi PNS di Pemkot Bandarlampung.

Sebelum pulang, sumber sempat menanyakan identitas Rudi. Dia mengaku pemborong dan kerabat dekat Wali Kota Bandarlampung Herman H.N. ’’Saya pemborong, juga sepupu Pak Herman, jelas! Pak Herman bisa jadi wali kota salah satunya yang membantu saya. Dan uang saya masih ratusan juta di Pak Herman,” yakinnya.

Pertemuan pun usai. Sumber beserta Radar meninggalkan ruko pukul 12.30. Rudi sempat meninggalkan nomor telepon yang dikatakannya khusus melayani peserta yang ingin lolos CPNSD di nomor 0821xxxxxxx. Untuk meyakinkan, dia meminta orang tua sumber menghubungi dirinya.

Sore harinya, pukul 16.00, sumber Radar dihubungi Rudi. Karena tidak menyanggupi DP sebesar Rp50 juta, Rudi lantas menurunkan tawaran sampai Rp10 juta. ’’Berapa aja lah yang kamu sanggup, Rp10 juta juga tidak apa-apa. Kamu fotokopi nomor peserta dua lembar, lalu kasih ke saya berikut uangnya,” saran dia. Namun, sumber Radar memutuskan tidak menghubungi Rudi.

Dikonfirmasi mengenai praktik percaloan ini, Wali Kota Herman H.N. membantah adanya ’’jatah-jatah” pada orang tertentu. ’’Bagaimana mereka mendapatkan jatah (PNS)? Saya saja, wali kota, tidak ada jatah,” tandasnya.

Herman saat itu baru melepas kontingen Kota Bandarlampung untuk mengikuti Porprov Lampung di kantor pemkot, Jumat (3/12).

Apakah dirinya memiliki sepupu bernama Rudi? Orang nomor satu di Pemkot Bandarlampung itu mengaku tidak mengenalnya. ’’Wah, ngaco itu,” pungkasnya.

Usut Dugaan Kebocoran Berkas pelamar CPNSD

Menanggapi persoalan ini, Sekkot Bandarlampung Badri Tamam menyatakan penerimaaan CPNSD berlangsung murni. Mulai proses pembuatan soal sampai koreksi lembar jawaban komputer (LJK) yang melibatkan Universitas Indonesia (UI). (Sumber: radarlampung.co.idyud/whk/c1/ade/penerimaan CPNSD Lampung 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: